• Selasa, 4 Oktober 2022

Jaringan GUSDURian Banten, Gelar Forum Pitulasan Menyoroti Soal Polemik Pembangunan Gereja HKBP di Cilegon

- Senin, 19 September 2022 | 13:13 WIB
Forum Pitulasan diselenggarakan Jaringan GUSDURian Banten membahas tema yang bertajuk Polemik Pembangunan Rumah Ibadah di Kota Cilegon (MuslimKita.com/TaufikHidayatat-Tanari)
Forum Pitulasan diselenggarakan Jaringan GUSDURian Banten membahas tema yang bertajuk Polemik Pembangunan Rumah Ibadah di Kota Cilegon (MuslimKita.com/TaufikHidayatat-Tanari)

MUSLIMKITA.COM - Forum Pitulasan merupakan ruang diskursus yang membahas soal isu-isu kebangsaan, merawat dan melestarikan Keindonesiaan dengan meneguhkan 9 Nilai Pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang digagas oleh Penggerak GUSDURian Banten

Cilegon merupakan salah satu Kota yang ada di wilayah Provinsi Banten, menurut sumber data Setara Institute mencatat Cilegon sebagai kota yang selalu masuk deretan peringkat anjlok dalam riset Indeks Kota Toleran selama lima kali; nomor 15 dari bawah pada 2015, nomor empat dari bawah pada 2017 dan 2018, nomor delapan dari bawah pada 2020, dan nomor tiga dari bawah pada 2021 lalu. 

Tolak ukur intoleransi sebuah kota yang digunakan dalam riset tersebut adalah kebijakan pemerintah, termasuk ucapan dan tindakan pejabat setempat.

Baca Juga: Biantara Sunda Tema Kebersihan Sekolah

Jaringan GUSDURian Banten melalui Forum Pitulasan menghadirkan 3 Narasumber yaitu dari Masyarakat Gerem Kota Cilegon, Ketum Cabang GMKI Serang dan Rumah Moderasi Beragama UIN SMH Banten yang diselenggarakan setiap bulan, menyoroti isu-isu terkini yang sedang hangat dengan mengusung tema yang bertajuk "Polemik Pembangunan Rumah Ibadah di Kota Cilegon, Ada Apa Sih?" bertempat di Cafe Kinamona, Cilaku, Kota Serang Banten, pada Minggu (18 September 2022) Malam. 

Ali Sobri Masyarakat Gerem Kota Cilegon mengatakan Sebetulnya tidak semua warga Kota Cilegon khususnya warga kelurahan Gerem bersikap intoleran.

Kota Cilegon, khususnya Kelurahan Gerem sejak dulu sampai sekarang kerukunan umat beragama di kelurahan kami berjalan dengan baik dan bisa hidup berdampingan. 

Baca Juga: Pidato Singkat dan Lengkap Tentang Kebersihan Sekolah (Bahasa Melayu) 

"Hanya saja karena warga Kota Cilegon ini sangat kental dengan kultur dan kearifan lokal (local wisdom)". Kata Sobri

Sobri menuturkan kemudian warga Kota Cilegon juga coraknya sangat religius sehingga walaupun bisa hidup berdampingan dalam kehidupan sosial tapi sangat sulit menerima adanya rumah ibadah umat agama lain, karena mereka berpikir itu akan merusak keimanan mereka. 

Halaman:

Editor: Taufik Hidayat at-Tanari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kemenag Buka Kemah Moderasi 2022

Senin, 29 Agustus 2022 | 20:10 WIB

Terpopuler

X